Pentingya 'Trust And Verify' Informasi Di Tengah Pandemi Covid-19

Dunia digital di Indonesia tumbuh semakin cepat, dan pada akhirnya menyebabkan semakin banyak informasi yang beredar di dunia maya. Informasi atau tautan informasi terkadang belum jelas kebenaranya tetapi telah tersebar secara cepat di dunia maya.

Begitu pula yang terjadi pada informasi di era pandemi Covid-19 saat ini. Informasi tentang Covid-19 semakin hari semakin membanjiri dunia maya di Indonesia dan akhirnya masyarakai kita mengalami tsunami informasi. Artinya, informasi covid-19 yang beredar sangat banyak dan melebihi. Fenomena tsunami informasi sebagai efek dari makin gencar dunia digital di Indonesia.

Tsunami informasi disebabkan karena pada era digital, informasi bersiliweran di dunia maya. Hal ini karena informasi tidak lagi diproduksi oleh media mainstream saja, melainkan informasi bisa diproduksi oleh siapa saja. Masyarakat umum sudah menjadi produsen informasi dan bisa menshare atau membagi informasinya kepada siapa saja melalui media sosial yang mereka miliki.

Fenomena tsunami informasi menyebabkan juga semakin banyak informasi hoaks yang beredar di dunia maya. Informasi hoaks ini semakin banyak apalagi di era pandemi Covid-19 seperti ini. Padahal masyarakat sangat membutuhkan suatu infomasi publik tentang Covid-19 yang terpercaya dan terverifikasi. Artinya publik membutuhkan informasi dari sumber terpercaya dan terverifikasi.

Data Kementerian Komunikasi dan Informatika menunjukkan sepanjang 23 Januari hingga 21 April 2020 saja sudah ada 568 kabar bohong terkait Covid-19. Tepatnya ada sekitar 1.260 kasus. Bahkan misalnya pernah ada berita bohong yang beredar, menjelaskan informasi yang mengatakan pasar tradisional disuatu daerah tutup, padahal aktivitas pasa masih berjalan.

Selama pandemi Covid-19 ini, begitu banyak kita menerima informasi dan tautan informasi tentang Covid-19 yang disebar dan beredar di whatsapp, dari satu group Whatsapp ke group Whatsapp lain, dari Whatsapp pribadi ke group Whatsapp keluarga.

Nah, yang jadi pertanyaan kita, apakah tautan informasi itu trust dan sudah diverifikasi? Hal ini perlu dipertanyakan karena sebagai mana kita ketahui penyebaran hoaks terbanyak melalui Facebook sebesar 81% dan WhatsApp sebanyak 56-58%.

Pada masa pandemi Covid-19, jika kita mendapatkan tautan informasi hendaknya jangan langsung percaya atau trust begitu saja. Apalagi ketika kita mendapatkan tautan informasi tersebut dari seseorang yang share atau forward dan bilang informasi tersebut dari group sebelah. Karena bisa saja informasi itu salah atau menyesatkan. Karena begitu banyak konten, informasi hoaxes dan atau fakenews yang beredar diluar sana.

Hoaks tentang Covid 19 cukup banyak terjadi. Kenapa hal ini bisa terjadi? Mungkin salah satunya karena kepercayaan yang buta (blind trust) dan masih rendahnya tingkat literasi digital di Indonesia sehingga masyarakat masih mudah percaya berita hoaks, infomasi bohong. Artinya masyarakat kita mudah mempercayai suatu informasi yang diterima tanpa mau melakukan verifikasi atau cross check terlebih dahulu kepada sumber terpercaya.

Kebanyakan masyarakat tidak melakukan cross check terhadap suatu informasi. Jadi kebiasan masyarakat kita, Trust begitu saja (blind trust) terhadap suatu informasi atau Trust but not verify. Hal ini lah menyebabkan semakin banyak informasi hoaks yang beredar dan pada akhirnya akan menyebabkan publik pada tindakan yang salah. Jika ini terjadi, maka bisa membahayakan kesehatan dan mental masyarakat atau psikosomatik.

Tsunami informasi khususnya informasi yang salah atau hoaks bisa diatasi dengan komunikasi dari para PR atau tim komunikasi pemerintah yang ‘trust and verify’ yang didukung data-data yang akurat. Pemerintah, PR dan media wajib mengapikasikan trust and verify agar konten dan informasi yang disampaikan menjadi pilihan utama. Artinya publik mempercayai informasi dari pemerintah, PR, dan media karena mereka percaya bahwa itu informasi dari sumber terpercaya (trust) dan sudah diverifikasi (verify) kebenarannya.

Selain peran dari tim komunikasi, PR dan media, masyarakat kita juga harus diberikan pemahaman untuk membiasakan diri melakukan penerapan Trust and verify. Artinya, masyarakat didik untuk percaya pada informasi dari sumber terpercaya dan sudah terverifikasi. Pendidikan literasi digital masyarakat mutlak dilakukan baik oleh pemerintah maupun lembaga lain yang peduli terhadap masyarakat.

Mengaplikasi Trust and verify dan peningkatan literasi digital harus dilakukan dan dikampanyekan secara masif agar masyarakat terhindar dari informasi yang menyesatkan. Pemerintah dan PR wajib melakukan komunikasi yang trust and verify secara lebih giat agar suatu informasi yang beredar ditengah pandemi Covid19 dapat dipercaya dan menjadi pilihan utama. Hal ini dilakukan untuk mendapatkan trust dari public terhadap informasi yang disampaikan.

Verifikasi informasi menjadi suatu proses yang penting dilakukan ditengah pandemi Covid-19. Langkah bijaksana ini dilakukan tidak lain agar masyarakat bisa menerima informasi yang terpercaya.

Dalam hal ini, maka dibutuhkan kolaborasi semua pihak sehingga masyarakat bisa terhindar dari informasi hoaks. Membiasakan atau membudayakan cross check sebelum share, menciptakan komunikasi yang trust and verify dirasakan akan mampu mengurangi informasi hoaks yang bersileweran di dunia maya.

Ayo semua berkolaborasi demi menciptakan dan mengkomunikasikan informasi yang trust and verify agar publik atau masyarakat percaya akan apayang disampaikan sebagai informasi yang terpercaya dan akurat. Mari kita lakukan komunikasi trust and verify informasi ditengah pandemi covid-19 agar Hoaks tak merajalela dan publikpun menjadi tenang.!!

 

Penulis: 
Surianto - Ketua Iprahumas Bangka Belitung
Sumber: 
Pranata Humas DKUKM

Artikel

17/01/2020 | Tulisan ini dimuat oleh HU Bangka Pos Tanggal 16 Desember 2019
28/08/2019 | Tulisan ini dimuat di HU Bangka Pos tanggal 22 Agustus 2019