Pangkalpinang - Kepala Dinas Koperasi dan UKM Provinsi Kepulauan Bangka Belitung, Arie Primajaya, mewakili Gubernur membuka kegiatan Focus Group Discussion (FGD) Penelitian Komoditas/Produk/Jenis Usaha (KPJU) Unggulan UMKM Tahun 2026 yang digelar di Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Kepulauan Bangka Belitung, Kamis (4/6/2026).
 
Kegiatan yang diinisiasi oleh BI Babel ini turut dihadiri Kepala BI Babel, tim akademisi dari Universitas Bangka Belitung, serta perwakilan perangkat daerah teknis lainnya.
 
Dalam sambutannya, Arie menegaskan bahwa UMKM merupakan tulang punggung perekonomian, baik di tingkat daerah maupun nasional. Ia menyebutkan bahwa sektor ini menyumbang lebih dari 60 persen Produk Domestik Bruto (PDB) nasional.
 
“Sekitar 65,5 juta unit UMKM beroperasi di Indonesia, mencakup 90-an persen dari total perusahaan dan menyerap hingga 97 persen tenaga kerja,” ujarnya.
 
Di tingkat daerah, perkembangan UMKM di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung menunjukkan tren positif. Arie mengungkapkan bahwa terjadi peningkatan sekitar 20 persen jumlah pelaku usaha kecil dari tahun 2024 ke 2025. Kenaikan ini dipicu oleh pertumbuhan usaha baru serta peningkatan skala usaha dari mikro ke kecil.
 
“Data ini menunjukkan bahwa UMKM mampu menjadi penyangga ekonomi masyarakat, menciptakan lapangan kerja, meningkatkan pendapatan keluarga, serta mendorong pemerataan pembangunan hingga ke pelosok desa,” tambahnya.
 
Lebih lanjut, Arie menyoroti besarnya potensi sumber daya alam, budaya, dan kreativitas masyarakat Babel yang dapat dikembangkan menjadi produk unggulan daerah. Potensi tersebut mencakup sektor perikanan, pertanian, perkebunan, kuliner khas, kerajinan tangan, hingga ekonomi kreatif berbasis inovasi dan teknologi.
 
Namun demikian, ia menekankan pentingnya dukungan data dan kajian yang komprehensif untuk memastikan pengembangan UMKM berjalan optimal dan berkelanjutan.
 
“FGD ini menjadi langkah penting dalam menyusun kebijakan berbasis data atau evidence-based policy, sehingga program pemberdayaan UMKM ke depan lebih tepat sasaran,” jelasnya.
 
Hasil penelitian KPJU ini diharapkan dapat menjadi dasar dalam menentukan prioritas pengembangan UMKM, memperkuat rantai pasok dan akses pasar, meningkatkan kualitas dan daya saing produk, serta mendorong optimalisasi pembiayaan, teknologi, dan digitalisasi.
 
Arie juga menekankan pentingnya kolaborasi lintas sektor dalam membangun ekosistem usaha yang produktif dan inovatif. Menurutnya, sinergi antara pemerintah, akademisi, dunia usaha, lembaga keuangan, komunitas, dan pelaku UMKM menjadi kunci utama dalam mendorong pertumbuhan ekonomi daerah.
 
“FGD ini bukan sekadar seremonial, tetapi harus menghasilkan gagasan, jejaring, dan langkah konkret yang mampu mempercepat pertumbuhan ekonomi dan membuka lapangan kerja,” tegasnya.
 
Ia pun optimistis, dengan kolaborasi yang kuat, UMKM Bangka Belitung akan terus berkembang, naik kelas, dan menjadi penggerak utama ekonomi daerah yang inklusif dan berkelanjutan.