Pangkalan Baru – Dinas Koperasi dan UKM Provinsi Kepulauan Bangka Belitung kembali menunjukkan komitmennya dalam memperkuat ekosistem pendamping UMKM. Selasa (18/11/25), DKUKM resmi membuka Pelatihan dan Sertifikasi Kompetensi Fasilitator UMKM di Hotel Grand Vella Pangkalan Baru. Kegiatan ini diikuti 20 peserta dan akan berlangsung selama tiga hari, mulai 18 hingga 20 November 2025.
 
Pelatihan menghadirkan narasumber berpengalaman dari LSP Wirausaha Talenta Nusantara, Mujahid Nurul Falah, yang memberikan pendalaman materi berbasis Standar Kompetensi Kerja Nasional Indonesia (SKKNI).
 
Plt Kepala Dinas Koperasi dan UKM Prov Kep Babel, Arie Primajaya, mengatakan bahwa UMKM dan koperasi adalah tulang punggung ekonomi daerah. Di Bangka Belitung, sebagian besar pelaku usaha berasal dari sektor mikro, kecil, dan menengah yang bergerak di berbagai bidang, mulai dari perdagangan, perikanan, pertanian, industri pengolahan, hingga sektor kreatif.
 
Namun, menurutnya, tantangan saat ini semakin kompleks. “Transformasi ekonomi, tuntutan kualitas produk, persaingan pasar, digitalisasi, hingga standar mutu tidak bisa lagi kita abaikan. Dalam kondisi ini, peningkatan kualitas SDM menjadi sangat penting, termasuk kualitas fasilitator yang mendampingi UMKM setiap hari,” ujarnya.
 
Arie menjelaskan bahwa sertifikasi berbasis SKKNI ini memiliki tiga makna penting. Pertama, penjaminan mutu kompetensi, agar fasilitator benar-benar memiliki standar kompetensi yang jelas dan diakui secara nasional. Kedua, profesionalisasi peran fasilitator, yang selama ini kerap dilakukan secara sukarela dan belum terstruktur. Dengan sertifikasi, peran fasilitator menjadi profesi yang memiliki etika dan standar layanan. Ketiga, menjamin keberlanjutan program pembinaan UMKM, karena fasilitator tersertifikasi akan menjadi mitra strategis pemerintah dalam mengawal UMKM naik kelas.
 
Ia menegaskan bahwa berbagai program pemerintah, mulai dari pelatihan, pendampingan, pembiayaan hingga digitalisasi tidak akan berjalan optimal tanpa SDM pendamping yang kuat. Karena itu, kegiatan ini menjadi langkah penting memperkuat “garda depan” pendamping UMKM di Bangka Belitung.
 
Kepada para peserta, Arie berpesan agar mengikuti pelatihan dengan sungguh-sungguh. “Jangan hanya mengejar sertifikat. Serap ilmunya, kuasai keterampilannya, dan pahami standar kompetensinya. Ke depan, bapak/ibu akan berada di depan kelas, menjadi tempat bertanya, bahkan tempat mengadu bagi pelaku UMKM,” katanya.
 
Ia juga mengajak para peserta menjadi fasilitator yang humanis dan solutif. Menurutnya, banyak pelaku UMKM yang memiliki mental kuat dan bekerja keras, namun masih membutuhkan arahan dalam manajemen, pencatatan keuangan, pemasaran digital, dan pengelolaan risiko. 
 
“Di situlah peran bapak/ibu sebagai mitra yang menguatkan,” tambahnya.
 
Arie berharap para peserta dapat terus menjadi agen perubahan setelah kembali ke daerah masing-masing, membuka kelas kecil, klinik konsultasi, atau pendampingan kelompok agar ilmu yang diperoleh tidak berhenti di ruang pelatihan saja.
 
Di akhir arahannya, Arie menyampaikan apresiasi kepada seluruh panitia, lembaga pelatihan, lembaga sertifikasi, serta narasumber yang telah menyiapkan kegiatan ini. 
 
Ia berharap pelatihan dan sertifikasi ini menjadi momentum penting untuk melahirkan fasilitator UMKM yang kompeten, sekaligus memperkuat UMKM Babel agar semakin tangguh, berdaya saing, dan berkelanjutan.