Pangkalpinang - Setiap daerah memiliki kain tenun khas, tak terkecuali Bangka Belitung. Bangka Belitung memiliki kain tenun khas tradisional yakni Cual. Kain tenun cual ini menjadi cinderamata yang khas dari Bangka Belitung. 
 
Kadis Koperasi dan UKM (KUKM) Prov Kep Bangka Belitung, Yulizar Adnan mengatakan bahwa Babel memiliki batik tradisional yang khas yakni tenun cual. Cual ini merupakan tenun tradisional yang  sangat menarik dan indah. Tenun cual ini menjadi warisan budaya yang harus dilestarikan. 
 
"Babel memiliki kain tradisional cual yang berasal dari Muntok Bangka Barat. Jadi ini sebagai budaya tenun khas Babel yang sangat indah dan wajib kita lestarikan," katanya saat membuka Pelatihan Tenun Cual dengan Pewarna Alami di Hotel Sun Pangkalpinang, Senin (26/09/22).
 
Salah cara pemerintah untuk melestarikan kerajinan tenun cual yakni melalui pelatihan tenun cual dengan bahan alami. Kadis KUKM Babel mengatakan bahwa pelatihan ini diikuti sebanyak 40 peserta dengan menghadirkan pembicara dari Departemen Kimia FMIPA UGM yakni Tutik Dwi Wahyuningsih dan Muhammad Idham Darussalam Mardjan dan  dari Tom Batik Pewarna Alami, Widodo.
 
Kadis KUKM Babel menuturkan bahwa tujuan kegiatan ini untuk mewariskan budaya tenun cual ke generasi penerus terutama anak-anak didik yang mungkin memiliki minat/bakat untuk mengembangkan kerajinan tenun cual ini. Selain itu juga untuk meningkatkan keterampilan teknik pelaku kerajinan tenun cual dengan memanfaatkan pewarna alami.
 
"Kami ingin mewariskan budaya tenun cual ke generasi penerus. Selain itu juga kita ingin meningkatkan keterampilan teknis pelaku kerajinan cual dengan memanfaatkan pewarna alami," katanya.
 
Kadis KUKM menjelaskan bahwa para pserta akam dikenalkan  dengan bahan pewarna alami yang berasal dari tanaman kedebik (melastoma) dan tanaman indigofera. Kedua tanaman ini menghasilkan warna biru dan ungu secara alami sehingga pengrajin tidak menggunakan pewarna sintetis.
 
"Selama empat hari kedepan, 40 peserta ini akan dikenalkan dengan pewarna alami dan cara membuat pewarna alami serta menggunakan warna alami dalam membatik," jelasnya.
 
Kadis berharap, para pengrajin dan para guru pembimbing dapat mengenalkan budaya tenun cual Babel serta menambah pengetahuan para pengrajinan tenun cual khususnya teknik pewarnaan.
 
"Para peserta harus aktif bertanya kepada para narasumber sehingga ilmu yang diperoleh menjadi sempurna serta dapat dipraktekan langsung dengan baik untuk membantu usaha kerajinan tenun yang dimilikinya," harap Kadis KUKM.
 
Sementara, Pembicara dari Departemen Kimia FMIPA UGM, Tutik Dwi Wahyuningsih, menuturkan Back to nature menjadi trend saat ini. Karena dengan pewarna alami ini berarti bisa ikut menjaga kelestarian alam.
 
Tutik mengatakan bahwa mayoritas pewarna alami adalah pewarna sayuran dari sumber tanaman dan sumber organik lainnya seperti jamur dan lumut. Pewarna (colorants) untuk tekstil dan makanan disebut pewarna /dyes. Sementara pewarna untuk tinta, cat dan kosmetik disebut pigmen
 
"Sumber pewarna alami itu bersumber dari bunga, daun, batang atau kulit batang," katanya.
 
Ditambahkannya, Warna alam paling primer adalah warna biru/indigo. Untuk mendapatkan sumber warna biru dapat diperoleh dari daun Tom (Indigofera tinctoria).
 
Terkait pelatihan ini, Tutik mengharapkan, ilmu yang diberikan dapat bermanfaat dan bisa meneruskan serta mengimplementasikan menjadi sesuatu yang sangat berharga.
 
"Semoga ilmu dapat bermanfaat dan dapat diimplentasikan dilapangan. Karena pewarna alami ini sangat menarik dan menjadi daya tarik tersendiri bagi masyarakat luas," harapnya.