Pangkalpinang - Suasana hangat dan penuh semangat memenuhi ruang pertemuan Hotel Sun, Selasa (11/11/25), ketika Dinas Koperasi dan UKM Provinsi Kepulauan Bangka Belitung melalui UPTD Balatkop UKM membuka pelatihan ekspor produk olahan hasil perikanan. Sebanyak 30 pelaku UMKM olahan hasil perikanan akan dilatih selama empat hari hingga tanggal 14 November terkait ekspor
Pelatihan ini dibuka langsung oleh Plt Kepala Dinas KUKM Babel, Muslim El Hakim Kurniawan. Ia menegaskan bahwa kegiatan ini bukan sekadar pelatihan teknis, tetapi langkah strategis untuk menguatkan daya saing UMKM di sektor kelautan dan perikanan. “Produk olahan khas kita adalah kebanggaan masyarakat Bangka Belitung. Potensi besar ini harus kita kelola dengan tepat agar bisa bersaing di pasar ekspor,” ujarnya.
Untuk memperkuat materi, Balatkop menghadirkan narasumber berpengalaman dari Indo Eximpro Jakarta, yaitu Lianto Fahmi Nasution dan Nur Hidayat, serta perwakilan dari Kementerian Kelautan dan Perikanan. Para pemateri membagikan pengetahuan praktis mulai dari prosedur ekspor, peningkatan kualitas kemasan, hingga inovasi produk olahan ikan.
Plt Kadis menyebutkan bahwa Bangka Belitung dikenal sebagai daerah kepulauan dengan kekayaan laut yang melimpah. Filet ikan, kemplang, kerupuk, getas, dan kericu tidak hanya menjadi identitas kuliner, tetapi sumber ekonomi masyarakat pesisir.
Namun, masih ada tantangan besar yang harus ditaklukkan seperti standar kemasan ekspor. Banyak produk UMKM yang masih menggunakan kemasan sederhana, belum memenuhi syarat penting seperti vacuum seal, label nutrisi, barcode, hingga informasi legalitas yang dibutuhkan negara tujuan.
Salah satu poin penting yang ditekankan yakni umur simpan produk. Menurut Plt Kadis KUKM, Pelaku UMKM kini dituntut mampu menyediakan sertifikat IPAM atau hasil uji umur simpan.
“Buyer luar negeri butuh garansi. Produk kita dikirim lewat jalur laut, perjalanan panjang harus diantisipasi. Jangan sampai ketika tiba di swalayan luar negeri produk sudah melempem,” ujar Plt Kadis.
Pelatihan ini mengupas potensi besar tren global yang semakin mengarah pada produk olahan ikan yang sehat dan alami. Produk seperti kemplang dan kerupuk Babel dinilai punya peluang tinggi, asalkan dikemas modern, higienis, dan memenuhi standar internasional.
Dalam pelatihan ini, peserta diajak memahami pentingnya branding digital, membuat katalog ekspor, hingga mengembangkan pasar lewat platform internasional seperti Alibaba dan Amazon.
"Pemerintah daerah juga mendorong penguatan peran koperasi sebagai agregator ekspor yang bisa melakukan quality control dan membangun jaringan dengan pembeli luar negeri," tambahnya.
Plt Kadis mengatakan bahwa menekankan bahwa ekspor produk olahan ikan tidak bisa berjalan sendiri. Dibutuhkan kolaborasi antara pemerintah, akademisi, lembaga pembiayaan, serta masyarakat. Peluang riset dan inovasi, seperti kemasan ramah lingkungan hingga pelabelan produk, terus dibuka untuk pengembangan UMKM.
Muslim menutup sesi pembukaan dengan ajakan penuh optimisme, “Mari jadikan pelatihan ini sebagai momentum. Kita tingkatkan kualitas produk dan kuatkan branding produk olahan Babel seperti filet ikan, kemplang, kerupuk, getas, dan kericu agar semakin dikenal dunia. Dengan semangat inovasi dan kolaborasi, kita wujudkan UMKM perikanan Babel yang berdaya saing dan berorientasi ekspor.” tutupnya.
Semangat para peserta pelatihan menjadi bukti bahwa mimpi UMKM Babel menembus pasar global bukan lagi angan, tetapi proses nyata yang sedang dibangun bersama.